Pada bulan April 2024, Badan Energi Internasional (IEA) merilis Laporan Pasar Gas Alam terbarunya untuk kuartal kedua tahun 2024, yang memberikan tinjauan menyeluruh atas kinerja pasar gas alam selama periode musim dingin tahun 2023/24, serta analisis mendalam tentang prospek pasar jangka pendek untuk tahun 2024. Laporan tersebut mencatat bahwa harga spot gas alam di Asia dan Eropa telah kembali ke level sebelum krisis karena pasokan yang membaik dan tingkat persediaan yang tinggi. Sebaliknya, harga Henry Center di Amerika Serikat telah jatuh ke level terendah dalam beberapa tahun.
Dinamika penawaran dan permintaan di pasar gas alam
Musim dingin tahun 2023/24 relatif ringan di Belahan Bumi Utara, tetapi cuaca dingin yang parah dan berkala masih memicu lonjakan permintaan gas alam, yang menggarisbawahi pentingnya fleksibilitas pasokan gas alam untuk keamanan energi. IEA memperkirakan permintaan gas alam akan terus tumbuh pada tahun 2024 di tengah stabilitas relatif di sisi pasokan, terutama di negara-negara ekonomi Asia yang tumbuh cepat, dengan Permintaan dari sektor industri dan listrik sebagai pendorong utama.
Sementara itu, perluasan sumber energi terbarukan dan peningkatan pemanfaatan tenaga nuklir akan meredam permintaan pembangkit listrik tenaga gas alam di pasar yang sudah mapan. Selain itu, tingkat persediaan yang lebih tinggi dapat membantu meredakan fundamental pasar hingga musim panas 2024. Keseimbangan dinamis antara permintaan dan pasokan ini telah membuat pasar gas alam berada dalam keseimbangan yang rapuh, tetapi laporan tersebut menekankan bahwa ketegangan geopolitik tetap menjadi risiko terbesar yang dihadapi pasar gas dalam jangka pendek.
Dorongan kebijakan dan teknologi rendah emisi
Laporan IEA juga membahas perkembangan kebijakan dan peraturan yang bertujuan untuk merangsang permintaan biometana, hidrogen rendah emisi, dan e-metana. Secara khusus, laporan tersebut menyoroti perkembangan penting dalam program kerja Gas Rendah Emisi, termasuk langkah-langkah stimulus permintaan untuk bahan bakar yang lebih bersih seperti biometana. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk lebih mengurangi emisi gas rumah kaca dengan mendorong pengembangan teknologi gas alam yang berkelanjutan.
Keamanan energi dan risiko geopolitik
Laporan tersebut juga mencatat bahwa sejak awal tahun, perdagangan gas alam cair (LNG) di Laut Merah telah terganggu oleh ketegangan geopolitik dan serangan Rusia terhadap infrastruktur energi, termasuk ancaman berkelanjutan terhadap fasilitas penyimpanan, terus memengaruhi rantai pasokan global. Dengan latar belakang ini, keamanan pasokan gas alam telah menjadi aspek utama pembuatan kebijakan energi nasional, dan IEA menyerukan peningkatan kerja sama internasional untuk menilai dan menerapkan opsi fleksibilitas di sepanjang rantai nilai gas alam dan LNG.
Prospek dan kebutuhan investasi
Ke depannya, IEA meyakini bahwa meskipun permintaan gas terus meningkat, pasokan gas global dapat mengalami kekurangan 22% pada tahun 2030 jika produksi tidak dikembangkan lebih lanjut. Prakiraan ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk investasi dalam pasokan gas alam dan teknologi yang lebih bersih seperti biometana dan penangkapan serta penyimpanan karbon. Laporan tersebut menekankan bahwa biometana, sebagai alternatif langsung untuk gas alam, saat ini diproduksi dalam skala yang jauh di bawah potensinya dan memerlukan dukungan kebijakan dan investasi lebih lanjut.
Laporan ini memberikan analisis terperinci tentang pasar gas alam dan menyerukan investasi yang lebih besar dalam teknologi rendah emisi untuk memastikan stabilitas dan keberlanjutan pasokan energi dalam konteks transisi energi global.





